Sekilas Rawa Pening

BANYUBIRU – Sedimentasi atau pendangkalan di Rawa Pening yang mencapai angka 778,93 ton per tahun dengan volume material sebanyak 29,7 juta meter kubik dianggap telah mencapai titik yang membahayakan keberadaan salah satu danau alam di tanah air itu. “Jika hal itu terus berlangsung, Rawa Pening diperkirakan akan benar-benar menjadi daratan pada tahun 2021 mendatang,” kata Dr Tri Retnaningsih Soeprobowati MAppSc, ketua pelaksana Gerakan Penyelamatan Danau (Germadan) Rawa Pening saat pemaparan program di halaman Kantor Kecamatan Banyubiru, Selasa (16/8) siang.

Pada kesempatan yang sama, diresmikan pula rumah bersama Germadan Rawa Pening yang berada di kompleks Kantor Kecamatan Banyubiru. Peresmian dilakukan oleh Wakil Bupati Ir H Warnadi ditandai pelepasan selubung papan nama dan pengguntingan pita. Hadir pula pada acara itu asisten deputi urusan pengendalian kerusakan ekosistem perairan darat kementerian Lingkungan Hidup (KLH) RI, Hernowo Sigit dan pejabat terkait lainnya.

Dijelaskan  lebih lanjut oleh Retnaningsih, proses sedimentasi itu akan menyebabkan penurunan volume air 29,34 persen dalam 22 tahun kedepan. Sehingga diperkirakan pada tahun 2021 seluruh  Rawa akan dipenuhi bahan sedimen. Sedangkan enceng gondok yang juga menjadi masalah besar karena menutupi permukaan rawa berkembang satu meter persegi setiap 52 hari. Padahal selama ini air Rawa Pening dimanfaatkan untuk pertanian dan pembangkit listrik tenaga air Jelok yang berkapasitas 15 ribu kilowatt (kw) dan PLTA Timo (10 ribu kw).

Permasalahan lain yang dihadapi Rawa Pening sebagai daerah tangkapan air (DTA) adalah perubahan tata guna lahan dan pemanfaatan yang tidak sesuai peruntukan. “Belum adanya grand design pengelolaan Rawa Pening yang terpadu menyebabkan terjadinya overlapping dan pemborosan anggaran,” tambahnya.

Program kerja Germadan Rawa Pening , lanjutnya, akan mengaplikasikan sains dan teknologi untuk remediasi badan air dan DTA. Selain itu juga pengembangan kelembagaan serta meningkatkan peran serta masyarakat dalam kegiatan konservasi. Secara teknis, program itu berupa penanganan enceng gondok, penanggulangan sedimentasi dan banjir serta implementasi pertanian ramah lingkungan. “Kedepan akan dilakukan zonasi pemanfaatan Rawa Pening agar dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terkait,” tambahnya.

Germadan Rawa Pening merupakan program percontohan penyelamatan 15 danau alam yang digagas oleh kementerian Lingkungan Hidup RI. Gerakan terpadu ini  melibatkan seluruh pemangku kepentingan termasuk petani, nelayan, Pemerintah Kabupaten Semarang dan TNI.

Menurut Asisten Deputi Hernowo Sigit, KLH menjadi mediator beberapa kementerian untuk mendukung usaha penyelamatan danau alam di tanah air. Pendirian rumah bersama Germadan yang didukung KLH, tambahnya, merupakan wahana komunikasi para pemangku kepentingan Rawa Pening untuk mengimplementasikan berbagai program nyata terkait penyelematan Rawa Pening. “ Di rumah bersama Germadan ini, masyarakat dan semua pihak yang berkepentingan akan melihat dan mendiskusikan berbagai program kerja yang implementatif demi kelangsungan keberadaan Rawa Pening,” tegasnya.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s