Kerusakan Moral

Mahfud MD: Moral Pejabat Sekarang Makin Jahiliyah

IndoWatch-Jakarta: Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menilai nilai-nilai moral di masyarakat telah banyak mengalami kemerosotan. Menurut Mahfud pejabat negeri ini semakin Jahiliyah.

“Hukum adalah legalisasi nilai moral dan etika, hukum tak boleh anggap sesuatu yang teknis, tapi ada nilai budaya dan etika, tapi banyak di negeri ini yang melanggar moral,” ujarnya saat menghadiri kegiatan seni dan budaya, wayang bertajuk “Ruwatan untuk Negeri” di Perpustakaan Universitas Indonesia (UI), kemarin malam.

Adanya kemerosotan moral itu dicontohkan Mahfud yaitu banyak pejabat negara yang saat ini melenggang dengan santai padahal statusnya telah menjadi tersangka. Hal inilah yang merupakan kemerosotan nilai – nilai moral di masyarakat.

“Banyak orang yang berstatus hukum, bebas bergaya. Hal itu dilakukan lantaran belum dihukum oleh hakim, padahal dia salah, menurut masyarakat pun dia salah, harusnya dia melakukan hal yang tak melanggar moral misalnya dengan meminta maaf atau mengundurkan diri. Hakim itu tak bisa disalahkan, orang yang berbohong nanti dihukum juga dengan sumpah palsu,” tegasnya. Sehari sebelumnya, Mahfud MD, juga berada di Universitas Indonesia (UI) menggelar kegiatan seni dan budaya, wayang bertajuk “Ruwatan untuk Negeri”.

Dalam acara tersebut Machfud MD hadir sebagai Majelis Wali Amanat (Ketua Mahkamah Konstitusi), Said Agil Siraj (Ketua MWA UI dan PBNU), serta Endriartono Sutarto (mantan panglima TNI).

Berperan sebagai dalang, Mbah Sujiwo Tedjo, membawakan sebuah kisah pandadaran kampus Sokalima. Semangat dari kisah ini ialah menggambarkan sebuah negara yang sedang mengalami konflik akibat berbagai lakon dari masyarakat negeri yang sering ingkar janji, diliputi oleh nafsu kekuasaan, kesombongan, yang bila tidak disikapi dengan kearifan dan keikhlasan akan berujung kepada kehancuran negeri.

Kisah yang berisi sembilan segmen ini, diawali dengan lakon pandita durna yang harus menikah dengan kuda. Setting cerita ialah istana kerajaan pancala yang dipimpin oleh Raja Sucitro. Kisah memuncak ketika terjadi peperangan antara Kurawa dan Gundama, karena upaya Kurawa untuk meringkus Prabu Sucitra dan Patih Gandama dengan penuh kebencian.

Dalam lakonnya, Sudjiwo Tedjo mengkritik kekuasaan pemerintah saat ini yang tak adil pada rakyatnya.

“Apa bedanya orang-orang yang hanya bisanya berjanji pada kampanye, apa yang bisa dipercaya, lihat kebunku seperti istana, penuh dengan uang, sehingga istana itu penuh dengan uang dan kekuasaan, meskipun sekokoh itu istana, paspampresnya masih sering kecolongan seperti yang kasus tukang rumput sampai bisa masuk saat presiden pidato,” ungkapnya di Perpustakaan UI, Depok, Jumat (18/05/12).

Nilai – nilai yang menjadi pesan utama dari acara pewayangan ini ialah ketika Pandawa yang sebenarnya bersama sama dengan Kurawa dipeintahkan oleh Durna untuk Prabu Sucitra justu sukses “meringkus” Prabu dan Patih Gandama, dengan pendekatan “hati”.

Filosofi yang ingin disampaikan ialah, bahwa konflik merupakan sebuah hal yang pasti mendera kehidupan manusia namun, konflik akan dapat diakhiri dengan sebuah pendekatan yang humanis tanpa dilumuri oleh aura kebencian.

Sudjiwo Tedjo juga sempat mengeluarkan humor lucu terkait korelasi Nahdatul Ulama (NU) dan konser Lady Gaga. “Seribu Lady Gaga pun datang tak akan goyahkan iman warga NU, NU itu bagus, Muhamadiyah juga bagus, bahkan ada guyonan bahwa 90 persen warga Indonesia ini NU, sisanya Muhammadiyah. Tapi ini hanya guyon, agama harusnya bikin orang bisa punya pedomannya sendiri,” tandasnya.(mnt/oki)

SABTU, 19 MEI 2012 09:55
MINTO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s